Lestude Program

June 16, 2009

Design & Creative Competition

Filed under: Design & Creative Competition — lestude @ 8:08 am

dccLatar Belakang :

Dalam era global ini, semua wilayah (kota.red) dituntut untuk mempunyai karakteristik (brand) khas/khusus yang mampu memberikan identitas wilayahnya sehingga mampu dikenal masyarakat luas. Melalui potensi-potensinya akan memberikan arah bagi pengembangan wilayah dan memberikan gambaran kepada para investor untuk turut andil dalam pembangunan kota. Sebuah branding yang teraplikasi dalam bentuk sarana prasarana fisik, karya seni, culture masyarakatnya, pernik-pernik kerajinan, dll bisa ditetapkan sebagai ikon bagi branding sebuah wilayah. Seperti halnya bila kita mengucapkan kata “Dagadu, Geplak, Malioboro, Parangtritis, UGM”, yang terbersit pertama kali dalam benak kita adalah Yogya; “Joger, Barong, Kuta, Tari Kecak, Pura, sesaji” – adalah ikon Bali, “Mebel Ukir, RA Kartini” – adalah ikon Jepara, “Ondel-ondel, si Pitung, kerak telur, sisingaan, roti buaya” – adalah ikon Betawi, “Lumpia, Simpang Lima, Bandeng Presto, Lawang Sewu” – adalah ikon Semarang, dll, lalu bagaimana dengan Solo?

Penyiapan sarana prasarana dan infrastruktur fisik sudah dimulai pemerintah kota untuk membuat wajah Solo sesuai dengan slogannya sebagai “kota Budaya”, dimana Batik, Sriwedari, Balai Kambang, Bengawan Solo, nasi liwet, menjadi ikon-ikon brandingnya. Begitu juga dengan perkembangan industri kreatifnya yang beragam, mulai dari produk olahan/kuliner, tekstil, fesyen, batik, dll, akan tetapi sudahkan semua itu menjadi produk khas Solo?, lalu bagaimanakah produk kreatif yang benar-benar menampilkan ‘wajah’ Solo?

Kota Solo diperkaya oleh sumber daya manusia yang sebenarnya mau dan mampu melakukan ‘urun rembug’ (sumbang saran) demi mensupport penciptaan produk kreatif yang benar-benar bisa memunculkan kekhasan kota Solo; ada masyarakat yang masih bangga dan memegang teguh budayanya dan ada pelajar dan mahasiswa yang mampu diandalkan sebagai generasi muda yang potensial untuk dibina.

Beragam event telah diselenggarakan untuk memberikan wawasan, pendidikan, dan sebagai ajang sosialisasi branding kota Solo, dan akan terus diselenggarakan sepanjang masa selama ‘kabudayan’ Solo masih ingin dilestarikan.

Tujuan Kegiatan ini :

  1. Menciptakan wadah bagi pengembangan potensi  masyarakat Solo untuk turut andil dalam pengembangan Solo Branding and Creative Power.
  2. Mengembangkan ide kreatif masyarakat Solo dalam upaya pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan industri kreatif.
  3. Mensosialisasikan bidang desain agar dekat dengan keseharian masyarakat Solo.

Sehingga sangat ideal apabila kegiatan ini diselenggarakan setahun sekali secara periodik, sehingga perkembangan dan kreatifitas masyarakat akan selalu terasah.

Omah Sinten Solo

Filed under: Omah Sinten Solo — lestude @ 8:00 am

omah-sintenLatar Belakang :

Solo merupakan satu kotamadya di Jawa Tengah yang cukup  giat dalam program pengembangan city brandingnya. Penyiapan fasilitas fisik sebagai upaya menciptakan ‘wajah’ kota Solo sesuai dengan branding sebagai kota budaya membuat Solo cukup sibuk bebenah dalam beberapa tahun terakhir ini.

Penyediaan sarana aktifitas masyarakat berupa city walk, penataan kawasan triwindhu menjadi pusat belanja souvenir  dan jajanan Ngarsopuro yang berdampak pada tereksposenya wajah keraton Mangkunegaran, penyediaan kawasan jajanan sore di Galabo-Beteng, penataan kawasan Sriwedari dan sekitarnya, penataan kawasan alun-alun Utara dan Selatan, penataan pasar klithikan, kawasan Pasar Gedhe,dll merupakan beberapa contoh pengembangan sarana prasarana fisik untuk menampilkan wajah Solo sesuai dengan konsep brandingnya sebagai kota budaya. Demikian juga dengan event-event budaya yang sudah mulai diselenggarakan dalam beberapa tahun lalu dan sudah menjadi agenda penyelenggaraan untuk tahun-tahun kedepan seperti Solo International Ethnic Music (SIEM), Solo Batik Carnivals (SBC), Solo Fashion Week, World Herritage Conference (WHC) merupakan event akbar yang diciptakan untuk mensupport program city branding Solo dari sisi penciptaan branding melalui event budaya.

Berkaitan dengan hal itu, salah satu lokasi yang cukup prospektif pula di daerah Keprobon, di kawasan Ngarsopuro (depan istana Mangkunegaran) yang sekarang ini telah tersedia fasilitas Night Market, juga saat ini mulai disiapkan sebuah lokasi yang untuk sementara ini dinamai “Omah Sinten”, yang merupakan sebuah lokasi yang diharapkan menjadi salah satu ikon kota Solo yang bisa menjadi tujuan wisata dan rujukan bagi wisatawan untuk mengenal kota Solo.

“Omah Sinten” merupakan sebuah lokasi sebagai pusat aktifitas dan informasi potensi Solo dan perkembangannya. Fasilitas yang sementara ini dirancangkan meliputi Tourist Information Centre (TIC), Resto, Galery, Workshop, dan Cineplex, sehingga diharapkan aktifitas wisatawan untuk mengenal Solo bisa terakomodir dengan keberadaannya. “Omah Sinten” juga diposisikan sebagai miniatur kota Solo dengan segala fasilitasnya, keragaman budaya, dan keunikan-keunikannya.

Melihat potensinya, dari sisi lokasi, sarana, prasarana, dan fasilitas yang akan dikembangkannya nantinya, “Omah Sinten” bisa menjadi sesuatu yang sesuai dengan harapannya apabila dikelola dan dikembangkan secara baik, integrated, dan juga profesional.

Tujuan Kegiatan ini :

  1. Membuat rancangan program pengembangan untuk aktifitas “Omah Sinten” dalam satu tahun anggaran dan dalam 3 (tiga) tahun pengembangan program.
  2. Membuat program perancangan visual branding dan strategi komunikasi pemasaran untuk “Omah Sinten” untuk membentuk imagenya.

Chocolate Cafe

Filed under: Chocolate Cafe — lestude @ 7:47 am

chocolate-cafeLatar Belakang :

Mengapa Coklat ?

Coklat memang merupakan makanan yang banyak disukai oleh segala usia. Kandungan alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida, memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah.

Coklat juga mengandung antioksidan yang dapat menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah dan dalam segi psikis manusia, coklat dapat menimbulkan perasaan rileks, dan juga sangat bermanfaat untuk kecantikan. Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannyayang dapat mengurangi pembentukan radikal bebas dalam tubuh. Akan tetapi kandungan gula yang terdapat dalam coklat membuat coklat menjadi makanan yang cukup hati-hati untuk dikonsumsi, karena dapat meningkatkan berat badan, merusak gigi, atau dapat menyebabkan diabetes.

Menilik dari sejarahnya, coklat sudah diposisikan sebagai sajian yang istimewa. Dalam buku “A Brief History of Chocolate, Food of the Gods”, bangsa Athena menyatakan bahwa coklat dikatakan sebagai makanan para dewa.

Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocolātl yang berarti minuman pahit.

Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah. Penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter), namun terkadang ditambahkan juga busa tambahan.

Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat. Biji dari pohon kakao ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa.

Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450-500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin didalamnya.

Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.

Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah alpukat seharga tiga biji kokoa. Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.(id.wikipedia.org)

Begitu juga dengan kondisi sekarang. Coklat menjadi salah satu makanan, minuman, bingkisan, bahkan menjadi sebuah produk monumental yang sangat berharga baik secara psikologis maupun ekonomis. Coklat sudah menjadi ikon gaya hidup bagi kalangan tertentu.

Begitu banyak disosialisasikan manfaat coklat bagi kesehatan dan kecantikan, serta bagaimana menyajikan coklat untuk kesempatan tertentu. Sehingga kita bisa melihat, bahwa harga makanan, minuman, layanan kecantikan, dan produk-produk coklat lainnya yang ‘branded’ dikenakan biaya yang cukup mahal. Juga diperlakukan dengan ritual yang berbeda dibandingkan dengan jenis produk yang lainnya.

Mengapa Cafe?

Kafe coklat? Mengapa tidak?

Di beberapa daerah, terutama di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya, dll kafe/rumah makan khusus coklat sudah banyak didirikan. Tetapi bagaimana dengan Solo?

Solo sudah dikenal sebagai kota kuliner; dengan makanan tradisional seperti nasi liwet sebagai ikonnya, akan tetapi tidak ada salahnya juga apabila dikembangkan juga beragam makanan lainnya yang bisa menjadi salah satu tujuan wisatawan untuk mencari kenyamanan ketika berkunjung di kota Solo.

Rumah makan/kafe coklat bisa menjadi daya tarik luar biasa bagi pasar remaja dan keluarga. Mengingat kemanfaatan dan rasanya, coklat bisa dikonsumsi oleh semua usia, terutama dari kalangan menengah dan atas.

Ruang makan di rumah, atau rumah makan/restoran seringkali menjadi ikon keakraban bagi sebuah keluarga atau sepasang kekasih. Karenam secara psikologis, meja makan merupakan media efektif untuk akrab antar anggota keluarga atau siapa pun yang duduk mengitarinya.

Dan itupun akan lebih berarti apabila di sana terdapat fasilitas, layanan, menu, event, setting lokasi, dll yang memang disiapkan untuk menciptakan atmosfir keakraban itu.

Di sana pengunjung/pelanggan bisa dilayani, diajak untuk ‘hidup’ sejenak di lingkungan sesuai dengan konsep coklat, menikmati sajian coklat dengan rasa dan penyajian yang berbeda.

Kafe dari bahasa Perancis café. Arti harafiahnya sebetulnya adalah (minuman) kopi, tetapi kemudian menjadi tempat di mana seseorang bisa minum-minum, tidak hanya kopi, tetapi juga minuman lainnya. Di Indonesia, kafe berarti semacam tempat sederhana, tetapi cukup menarik di mana seseorang bisa makan makanan ringan. Dengan ini, kafe berbeda dengan warung.

A “café” can also refer to a small informal public discussion. These are usually live events, and often focus on starting an open conversation on a particular topic. (id.wikipedia.org)

Dengan demikian, di dalam kafe sangat memungkinkan untuk diselenggarakan acara-acara yang bersifat kekeluargaan, keakraban, nostalgia, romantisme, dan keceriaan. Sehingga pengunjung akan mampu menikmati sajian coklat sekaligus menikmati suasana keakraban dan keceriaan yang diorganisir dengan baik.

Tujuan Kegiatan ini :

1.    Menjadi tempat makan dan minum yang menyenangkan.

2.    Menjadi tempat berkumpul dan bersenang-senang yang nyaman.

Planet Toys Jepara

Filed under: Planet Toys Jepara — lestude @ 7:35 am

planet-toysLatar Belakang :

“Kesalahan utama yang tidak disadari oleh pemasar adalah selalu mengulangi kesalahan, yaitu keyakinan bahwa satu-satunya jalan untuk berhasil adalah merebut pasar dan menjadi dominan di pasar tersebut. Dengan cara melakukan new brand (merek baru) berikut variannya. Karena hal tersebut akan sia-sia apabila tidak diikuti oleh penciptaan distinctive customer satisfaction (kepuasan pelanggan) oleh produk yang diciptakan. Menciptakan kepuasan pelanggan adalah tujuan utama dalam pemasaran dan brand strategy. Semua kegiatan ini adalah untuk mengkristalkan hakikat kepuasan pelanggan, sehingga membentuk brand value. Sekarang saatnya untuk tidak lagi berpikir tentang cara merebut pasar, tetapi cara menciptakan pasar baru dengan startegi powerfull brand.”

Sebuah perusahaan, sebesar atau sekecil apapun itu, hendaknya mempunyai manajemen pengelolaan dan pengembangan yang terintegrasi dari sisi fisik dan non fisik dalam semua kegiatannya. Semua hal yang terkait dalam kegiatan usaha (stakeholder) menutut untuk ‘dipuaskan’.

Dalam usaha retail, khususnya; staf dan karyawan, pemilik, masyarakat sekitar, supplier, konsumen, bahkan petugas kebersihan pun menuntut untuk merasa nyaman, puas, mapan, dan semangat dalam bekerja.

Dalam usaha retail , faktor fisik : seperti aset bangunan, sarana dan prasarana, lini produk, supplier, karyawan, staf pengelola, klien, relasi/jaringan kerja, dll, maupun faktor non fisik : seperti merek/brand, loyalitas terhadap merek, brand awareness, perceived quality, brand association, dan brand loyalty; harus bisa berjalan secara selaras dan berkesinambungan.

Ketidakmampuan atau kelengahan perusahaan dalam mengambil keputusan dalam pengelolaan usaha, serta kelengahan dalam mangantisipasi perkembangan kondisi pasar akan berdampak besar dalam kemajuan perusahaan dari sisi fisik maupun non fisiknya; …. kelemahan dalam manajemen produk, pengelolaan karyawan, pelayanan konsumen, pelayanan hubungan baik dengan klien dan relasi bisnis, penataan sarana dan prasarana fisik yang kurang terkoordinir, kelemahan manajemen keuangan, bahkan kelemahan dalam sistem kepemimpinan (leadership) pun mempunyai banyak peluang untuk menjadi penyeban hancurnya sistem secara umum.

Perencanaan bisnis  merupakan alat yang sangat penting bagi pengusaha maupun pengambil keputusan kebijakan perusahaan. Tujuan perencanaan ini adalah agar pengelolaan bisnis sesuai pada jalur yang telah ditetapkan, sehingga proses implementasi, evaluasi dan pengembangan berikutnya tetap pada ‘rel’ yang telah dirancangkan. Konsep perencanaan yang meliputi rencana strategis, rencana pemasaran, rencana manajemen keuangan, dan rencana manajemen secara operasional merupakan hal-hal yang penting untuk dirancangkan desain dan konsep implementasinya.

Konsep yang paling tepat, yang secara umum digunakan adalah konsep integrated marketing communications (IMC), yakni komunikasi terpadu menyangkut pemahaman mengenai pasar dan hubungan yang dimiliki oleh branding atau yang harus dimilikinya. Apabila konsep ini mampu diimplementasikan dengan baik, terpadu, dan berkesinambungan, maka sebuah perusahaan/produk tidak akan tampil sebagai komoditas saja, tetapi lebih jauh daripada itu, yaitu menciptakan powerfull brand.

Tujuan kegiatan ini :

Secara keseluruhan, kegiatan “Perencanaan dan Pengembangan untuk PLANET TOYS, Jepara” ini merupakan kegiatan yang meliputi: perancangan perencanaan bisnis yang secara integrated, yang diawali dengan proses riset, analisa hasil riset, perumusan strategi bisnis; hingga strategi implementasi pada semua kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan usaha/manajerial, mencakup aspek fisik dan non fisiknya. Dalam pembahasannya, kegiatan ini berorientasi pada; kepuasan pelanggan sebagai konsumen, kepuasan pemilik sebagai head of leadership, kepuasan staf dan karyawan sebagai pengelola, kepuasan supplier dan rekanan sebagai pendukung usaha (stakeholder), serta kepuasan masyarakat sebagai komunitas sosial.

Mampir Ngombe Cafe

Filed under: "mampir ngombe" cafe — lestude @ 7:08 am

mampir-ngombe-cafeLatar Belakang :

Dalam kehidupan yang semakin komplek seperti saat ini, krisis ekonomi global, krisis moral para koruptor, hiruk pikuk prilaku para calon legislatif dengan gambar narsisnya, krisis mental para remaja dengan narkoba, tawuran, kebablasan (ketidakterbatasan) dampak teknologi TV, internet, DVD, dll mengakibatkan kita sering pusing dibuatnya. Yang berdampak pada sikap acuh, serba instant, kurang tepo sliro (tenggang rasa) terhadap orang lain, egois, konsumtif, emosional, anarkis, dan lain-lain pada mentalitas generasi ke dua maupun ke tiga dalam perilakunya sehari-hari.

Bila di rumah, di kantor, atau di lingkungan rumah, kita temui orang tua/nenek kakek kita maupun orang-orang di sekitarnya yang mantan pejabat tinggi, mantan petinggi militer, mantan kepala dinas, mantan direktur, atau yang masih aktif sebagai pengusaha, komisaris, pejabat, dll banyak berkomentar tentang kehidupan masa kini yang selalu dibandingkan dengan masa lalu mereka yang penuh asam dan garamnya hidup, selama berjam-jam…. Bagi kita yang baru pertama kalinya mendengar pastinya menarik dan menyita banyak perhatian, karena di dalamnya banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik. Akan tetapi bagaimana bila kita mendengarnya 2 kali sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, 356 hari setahun ? Betapa membosankannya… wow!

Hanya cerita itu-itu saja; … betapa hebatnya ia berjuang untuk kemerdekaan, betapa berat perjalanan menuju ke sekolah rakyat, betapa disiplinnya guru-guru mereka mendidik mereka di sekolah, betapa beratnya beban hidup dengan ekonomi berkekurangan di masa kecilnya, betapa menyenangkan pengalaman mereka bermain di sungai kecil di desanya, seberapa banyak bekas luka goresan kenakalan masa kecil mereka, betapa lelahnya mereka berkeliling menjajakan dagangan ibunya untuk membiayai kehidupan mereka, berapa banyak cewek/cowok yang pernah dipacarinya, dan sebagainya.

Di satu sisi, mereka juga berkomentar; betapa buruk generasi kita dimata beliau, betapa tidak sabarnya anak-anak mereka melayani mereka sehari-harinya, betapa teganya anak-anak mereka ‘memberikan’ pada panti jompo, betapa inginya mereka diperlakukan sebagaimana yang mereka inginkan oleh orang-orang disekitarnya, betapa inginnya mereka untuk sekedar bercengkerama dengan anak-anak mereka ditengah kesibukan dan jadwal kantornya, betapa hoplessnya mereka melihat cucu-cucunya bergelut dengan maut ketika terlibat dengan tawuran atau sebagai bagian dari aksi pencurian/pelecehan seksual yang terpampang di layar TV setiap hari-pagi-siang-malam, lidahnya tak berhenti berucap penuh emosi ketika melihat tayangan kampanye para politisi negara kita, korupnya pejabat-pejabat kita… dan biasanya mereka selalu berucap, “kalau jaman bapak dulu……..”.

Kita sebagai salah satu generasi kedua atau bahkan ketiga kadangkala memandang mereka sebagai ‘barang antik’ yang harus dijaga, kadangkala juga memperlakukan mereka sebagai ‘beban’ hidup kita, dan secara ekstrim … kadangkala juga kita ‘meniadakan’ mereka dari kehidupan kita.

Padahal, bila kita mampu melihat secara lebih jernih … merekalah panutan kita, yang membuat kita menjadi seseorang apa adanya sekarang … Segala hal baik-buruk, patut-tidak patut, layak-tidak layak, adil-tak adil, dan sebagainya adalah buah pembelajaran dari mereka.

Dalam kacamata produktivitas, mereka sudah masuk dalam kategori non produktif. Hal itu bisa dipahami mengingat fisik mereka untuk beraktifitas dan berproduksi di hari tuanya. Tapi siapa sangka, bahwa kearifan pikirannya, kematangan hidupnya, pengalaman hidupnya selama sekian puluh tahun, penderitaan dan kebahagiaannya, … sebenarnya adalah motivator bagi kita anak-anak dan cucunya.

“MOTIVASI”, mungkin itu adalah hal penting yang kadangkala tidak disadari oleh seseorang, yang bisa merubah pola pikir kita, memberi wawasan kita, merupakan ‘charger’ kita untuk lebih bersemangat menghadapi tantangan hidup. Terutama bagi generasi muda yang mempunyai tantangan sebagai pembangun jaman yang semakin ‘keras’ agar mereka tetap fokus pada hakikat hidup, kehidupan, dan kuat pada terpaan jaman.

Tujuan kegiatan ini :

Dengan rancangan sedemikian rupa, “Mampir Ngombe” Café (nama sementara yang dipilih) diharapkan:

  1. Menjadi tempat yang nyaman untuk makan & minum
  2. Menjadi tempat interaksi (srawung) yang menyenangkan
  3. Menjadi tempat membagi ilmu & pengalaman bagi anak/cucu

Design Education for DIFABLE

Filed under: design education for defable — lestude @ 7:01 am

difableLatar belakang :

Perkembangan dunia pendidikan desain di indonesia mengalami perkembangan yang luar biasa pesat, ini bisa dilihat jurusan/program studi Desain Komunikasi Visual sudah demikian dikenal oleh para remaja yang notabene sebagai calon mahasiswa. Lembaga pendidikan yang munculpun sangat beragam, dari perguruan tinggi, sampai lembaga pendidikan non formal berupa diploma, politeknik maupun kursus dan privat.

Lembaga Tinggi di beberapa kota besar yang membuka jurusan/program studi Desain, baik program S1/diploma antara lain :

Jakarta : Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Univ. Trisakti, Univ. Atmajaya, Univ. Pelita Harapan (UPH), Univ. Bina Nusantara, Univ. Tarumanegara, Univ. Paramadina Mulya, Univ. Kristen Indonesia, Politeknik UI, Univ. Sahid, Imago. Bandung :  Inter Studi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Nasional (ITENAS), STISI, Maranata, Univ. Pasundan, Univ. Widyatama, IT Harapan Bangsa, STDI, Univ. Komputer. Yogyakarta :  ISI, Univ. Negeri Yogyakarta, Univ. Ahmad Dahlan, Akademi Desain Visual Yogyakarta (ADVY), MSD. Surakarta :  Institut Seni Indonesia (ISI), Univ. Sebelas Maret (UNS), Akademi Seni dan Desain Indonesia (ASDI), Univ. Sahid. Surabaya :  Univ. Kristen Petra, Institut Teknologi Surabaya, Univ. Ciputra, UNISA, PPKAI Petra, STIKOM, Univ. Pelita Harapan, Institut Science dan Teknologi Surabaya (ISTTS). Denpasar :  Univ. Udayana, ISI Denpasar, Univ. Bina Nusantara, Bali Design School, New Media, Wearness Design.

Mengamati fenomena di Indonesia yang semakin banyak lembaga pendidikan tinggi membuka jurusan/program studi desain, memiliki arti/makna beragam; Pertama, bahwa jurusan/program studi ini mempunyai banyak peminat dari calon mahasiswa baru. Kedua, prospek kerja sangat menjanjikan, sangat luas dan relatif masih sangat diperlukan. Ketiga, jenis tugas-tugas perkuliahan dan pekerjaan di dunia industri dianggap sangat menyenangkan, dekat keseharian mereka seperti televisi, internet, video klip, koran, majalah, kaset/CD, komik, T-Shirt dan lain-lain.

Namun sayang, perkembangan yang menggembirakan tersebut sama sekali belum bisa dinikmati para kaum DIFABLE yang sebenarnya (berdasar riset yang difasilitasi AhmadAdib&Partners tahun 2007 dengan sampling kota Solo, Jogjakarta dan sekitarnya), 
juga bisa memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis yang relatif sama apabila memperoleh kesempatan pendidikan yang sama.

Dengan dasar pemikiran seperti itu, kami dari Lembaga Studi Desain (LeStuDe) yang berdomisili di Surakarta mencoba merencanakan program pembelajaran/pelatihan khusus bagi para DIFABLE. Program ini kami rencanakan melalui proses riset baik pada  personal/lembaga terkait, perusahaan/industri calon pengguna dan institusi pemerintah, untuk merancang kurikulum agar hasilnya sesuai harapan semua pihak.

Tujuan Kegiatan ini :

  1. Mendukung program Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dalam upaya pemerataan pendidikan desain.
  2. Mendukung program pemerintah melalui Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) dalam memberikan kesempatan pendidikan desain bagi para Difable.
  3. Memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi para difable, bahwa bidang desain mampu mereka kuasai dan mampu sebagai alternatif dunia kerja.

June 2, 2009

PROGRAM OUT SOURCHING DESAIN PERWAJAHAN BUKU

Filed under: PROGRAM OUT SOURCHING DESAIN PERWAJAHAN BUKU — lestude @ 6:52 am

out-sourcingMeningkatnya persaingan dalam kehidupan ini, meningkat pula kesadaran masyarakat akan pentingnya kebutuhan akan pendidikan. Hal tersebut tentu sejalan meningkat pula kebutuhan akan tersedianya buku-buku, baik secara kuantitas maupun kualitas yang pada gilirannya meningkat pula jumlah penerbit penghasil buku-buku.

Sementara saat ini masyarakat semakin pintar dan kritis dalam setiap akan mengkonsumsi segala kebutuhan hidupnya, termasuk buku tentunya. Masyarakat tidak lagi hanya ingin isi dari sebuah buku, tapi juga menginginkan buku yang enak dibaca, mudah difahami, menyenangkan, menghibur dan bangga saat membawanya.

Dengan demikian, memang saat ini peranan sebuah desain perwajahan buku terasa semakin penting.

Penerapan komposisi, tipografi, warna dan ilustrasi yang sesuai akan memberikan rasa, gaya dan selera estetika masyarakat (konsumen).

Semua pekerjaan di atas merupakan tanggung jawab divisi kreatif/desain. Sebuah divisi kreatif/desain yang ideal memerlukan manajemen dan suasana kerja yang berbeda dengan divisi lainnya. Karena apabila divisi ini masih dikerjakan di dalam perusahaan (in house) seringkali menghasilkan karya yang monoton, ‘tidak cerdik’, tidak kreatif, yang pada akhirnya tidak mampu membantu upaya meningkatkan angka pemasaran.“Mengapa perusahaan sebesar The Coca-Cola Company tidak pernah mempunyai divisi kreatif (creative division in house) sendiri, tetapi lebih mempercayakan kepada Landor & Co. Juga PT. Djarum Tbk. lebih mempercayakan pekerjaan kreatifnya kepada Dwi Sapta Advertising. Dan PT. Indofood Sukses Makmur kepada Matari Advertising….”

Tujuan kegiatan ini :

  1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas desain buku.
  2. Memberikan kesegaran baru/tidak monoton.
  3. Meningkatkan nilai kompetitif di pasaran.
  4. Memperkaya ragam dan variasi desain.
  5. Mengurangi conflict interest karena kepentingan personal.

PROGRAM KONSULTAN INDEPENDEN

Filed under: PROGRAM KONSULTAN INDEPENDEN — lestude @ 5:02 am

konsultan-independen“ Sesungguhnya manusia itu hanya memperoleh apa yang diusahakannya ” (QS An-Najm 39)

Demikian juga sebuah perusahaan,  maju mundurnya sangat ditentukan oleh siapa, bilamana dan bagaimana mengelolanya. Mampu mengakomodir perbedaan-perbedaan tiap personal menjadi sebuah kekuatan yang masing-masing memiliki kesatuan visi/misi demi perkembangan perusahaan.

Namun demikian, tidak kalah penting adalah upaya mendapatkan masukan pemikiran-pemikiran yang independen, objektif, kreatif dari sudut pandang (angle) yang berbeda dari personal intern perusahaan. Untuk itu perusahaan perlu menjalin kerjasama dengan konsultan independen yang akan selalu memberikan masukan dan kritik konstruktif, solusif yang tidak mengikat dan tidak ada kewajiban bagi perusahaan untuk harus menerapkannya.

Tujuan kegiatan ini :

  1. Membantu memberi masukan-masukan perihal perencanaan, perancangan instrument dan supervisi pelaksanaan  program-program yang seharusnya telah dilaksanakan perusahaan, tetapi belum terealisasi/maksimal karena belum ada divisi dan personal /penanggungjawabnya tersendiri.
  2. Karena statusnya sebagai konsultan independen, akan menghasilkan kinerja yang obyektif, kritis solusif dan memiliki sudut pandang (angle) yang pasti berbeda dengan sudut pandang owner ataupun korporat.
  3. Sehingga mampu melengkapi/menyempurnakan kebijakan-kebijakan yang menjadikan perusahaan lebih berkembang dan senantiasa siap bersaing.

PROGRAM EKSTRA KURIKULER DESAIN

Filed under: ekstrakulikuler desain — lestude @ 2:28 am

ekstrakulikuler-desain“Masing-masing individu mempunyai kecerdasan yang majemuk. Berdasarkan Howard Gardner tentang Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), terdapat 9 kecerdasan yang dimiliki manusia; kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.”

Sistem pendidikan formal di tingkat sekolah dasar dan menangah yang memberlakukan model pendidikan mainstream/mayoritas secara strategis memberikan porsi lebih pada pengembangan kecerdasan linguistik dan kecerdasan matematis logis yang menjadi ukuran keberhasilan anak di sekolah. Karena sistem pendidikan kita masih hanya mengukur kecerdasan berdasarkan IQ (Intelligent      Quotient), sehingga seringkali seorang siswa yang ‘dianggap’ pandai adalah anak-anak yang sangat menonjol dalam mata pelajaran eksakta/ilmu pasti (Matematika, Fisika, Kimia, dll), sedangkan mata pelajaran non eksakta/ilmu sosial (Bahasa, Sejarah, Kesenian, Olah raga, Keterampilan, Kesenian, dll) menjadi mata pelajaran yang kurang mendapat perhatian lebih dari sebagian pelaku sistem pendidikan kita, yang pada akhirnya membuat seorang anak yang mempunyai kemampuan lebih atau berprestasi di bidang tersebut dianggap tidak memberikan kebanggaan kepada sekolah. Dianggap sebelah mata oleh guru, teman, dan bahkan oleh  orang tuanya sendiri.

Sedangkan kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasanintrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial yang notabene dianggap kurang penting, dikonsentrasikan pada kegiatan di luar jam pendidikan formal di sekolah, yang biasanya diselenggarakan dalam bentuk ekstrakurikuler.

Dalam teori Multiple Intelligence, setiap individu akan mampu mengembangkan diri dan kecerdasannya apabila dibimbing sesuai dengan karakter kecerdasan yang dimilikinya. Setiap individu akan mampu belajar maksimal apabila diletakkan pada komunitas yang sama, yang memberlakukan sistem pembelajaran yang unik sesuai dengan karakter kecerdasan yang mereka miliki. Dengan keseimbangan antara kesembilan unsur kecerdasan individu tersebut, seorang individu akan mampu menjadi manusia yang sangat cerdas baik sisi intelektual dan emosionalnya untuk berperan penting dalam hidup bermasyarakat.

Pendidikan ilmu-ilmu seni dan desain seperti; fotografi, komputer grafis, audio visual, clay, origami, drawing, desain produk, komik, dll merupakan bidang ilmu yang menitikberatkan pada pengembangan kecerdasan anak dari sisi soft skill (kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial); yang notabene masih menjadi anak tiri dalam sistem pendidikan formal di tingkat sekolah dasar kita.

Akan tetapi, seiring dengan semakin tingginya kesadaran orang tua dan lingkungan pelaku sistem pendidikan kita, sudah mulai terdapat pengakuan dan perlakuan yang cukup menggembirakan terhadap kecerdasan non linguistik dan non matematis logis yang dimiliki anak-anak yang sudah mulai dikembangkan bahkan sejak dalam kandungan sampai tingkat pendidikan tinggi. Hanya saja hal tersebut sudah mulai terlihat hasilnya di sekolah-sekolah di kota-kota besar, sedangkan sekolah-sekolah di kota-kota kecil masih terdapat banyak pembenahan. “ Melihat kondisi seperti ini, bagaimana dengan kota Solo? Bagaimana dengan sekolah dimana Bapak/Ibu sebagai penanggungjawabnya …….?”

Banyaknya kegiatan yang diselenggarakan di sekolah, baik secara formal maupun non formal

untuk anak-anak didiknya. Akan tetapi, seringkali penyelenggaraannya tergantung pada kemampuan sekolah untuk membiayai dan menyediakan sarana. Sekolah yang mampu melaksanakan lebih banyak kegiatan, bahkan membuat satu kegiatan yang berbeda dari sekolah lain akan menciptakan daya tarik/Unique Selling Preposition (USP) bagi sekolah, sekaligus meningkatkan positioningnya. Karena seringkali orang tua memberikan arahan untuk memilih sekolah tertentu berdasarkan ragam kegiatan ekstra yang diselenggarakan pihak sekolah.

Tujuan kegiatan ini :

  1. Meningkatkan wawasan perkembangan dunia desain
  2. Menjadi wadah bagi aktivitas kekaryaan siswa siswi di sekolahnya
  3. Sebagai wadah kreatifitas dan penggalian potensi dirinya diluar bidang akademik.
  4. Sebagai tahap awal pembentukan komunitas desain dan kreatifitas untuk anak-anak di wilayah Solo, sebagai batu pijakan untuk agenda kegiatan berikutnya.

Bila tertarik untuk terlibat atau ikut serta merealisasikan program ini, silakan contact kami via nidyah.fssr93@gmail.com atau 08121529879 // 0818251635.

RISET, PRODUKSI, KAMPANYE, DAN DISTRIBUSI “DOLANAN ANAK”

Filed under: dolanan anak — lestude @ 2:25 am

dolanan-anakDapat dikatakan dalam sejarah kehidupan manusia bahwa adanya permainan itu muncul bersamaan dengan keberadaan manusia itu sendiri. Pada kenyataannya, permainan yang pertama kali dijumpai oleh seorang anak adalah permainan (kita sebut dolanan) tradisional yang diwariskan secara turun-temurun sesuai dengan budaya yang berkembang di sekitar lingkungan si anak tinggal. Anak secara alamiah akan bermain dengan dolanan yang dijumpai di lingkungannya, selain dolanan yang lain tentunya. Gejala ini sebenarnya masih banyak dijumpai di daerah pedesaan atau pedalaman, hanya saja secara perlahan tapi pasti mulai ditinggalkan.

Sebaliknya di daerah perkotaan budaya dolanan tradisional sudah mulai luntur digantikan dengan permainan serba instan atau modern yang cenderung mempengaruhi anak menjadi malas, kurang menghargai sebuah proses bahkan menjadi semakin asosial, egoistik dan sulit berdaptasi dengan lingkungan baru apalagi yang bukan komunitasnya.

Bermain bagi anak merupakan salah satu sarana pembelajaran di luar sekolah yang mempunyai arti penting bagi proses perkembangan sosialisasi anak. Mereka mulai belajar mengenal nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang diperlukan sebagai pedoman untuk pergaulan sosial dan mengenal peran sesuai dengan kedudukan sosial yang nantinya mereka lakukan. Dengan dolanan, anak dapat mengembangkan kepribadian dan menentukan jalan hidupnya.

Segi sosialisasi anak dikembangkan melalui dolanan saat ia bermain dengan teman-teman sebayanya. Keuntungan yang diperoleh saat anak bermain dengan teman-temannya adalah ia dapat mengembangkan ikatan pertemanan bahkan rasa demokratis.

Dalam aktivitas dolanan setiap anggota mempunyai kedudukan yang sama, apakah ia anak si kaya atau si miskin, anak pejabat atau tukang becak sekalipun. Jiwa anak yang tanpa beban membuat mereka bebas mengekspresikan kesamaan hak dengan melakukan undian atau sud (dalam bahasa Jawa berarti melakukan undian dengan menggunakan jari-jari tangan untuk menentukan siapa yang menang atau yang kalah atas urutan bermain.

Rasa loyalitas dan sportivitas anak dapat ditumbuhkan dengan menjadi salah satu anggota dari suatu dolanan. Setiap pemain ikut memainkan permainannya dan mempertanggungjawabkannya, sebab jenis dolanan tradisional yang cenderung mengikutsertakan banyak peserta lebih dapat menumbuhkan loyalitas dan solidaritas antar kawan sekaligus juga sifat kompetitif yang sehat. Dengan dolanan tradisional, si anak tidak hanya merasa senang tetapi secara tidak langsung ia dapat mengenal nilai-nilai tertentu yang dapat mendukung perkembangan kepribadiannya kelak.

Pada dasarnya dolanan yang dimainkan anak-anak sangat bervariasi dan dapat dibedakan berdasarkan sifatnya, jenis kelamin, macam dan bentuknya serta kapan dimainkannya. Di samping itu ada beberapa dolanan yang dimainkan menurut musim-musim tertentu. Dolanan itu bersifat usum-usuman (musiman), misalnya di daerah  pedesaan setelah musim panen atau bero, banyak anak yang bermain layang-layang, bal-balan debog dan lain-lain.

Ditinjau dari cara bermainnya, dolanan tradisional dibagi menjadi dua, yaitu permainan yang bersifat bermain (play) dan bertanding (games). Dolanan yang sifatnya bermain sering dilakukan hanya sebagai pengisi waktu luang saja, sedangkan dolanan yang sifatnya bertanding mempunyai kekhususan tersendiri seperti lebih terorganisasi, kompetitif, dimainkan paling sedikit dua orang, mempunyai aturan-aturan tertentu sesuai kesepakatan antar pemain, ada pihak yang menang dan kalah. Dengan sifat-sifat dolanan tersebut, maka bagi anak yang ingin memainkan suatu dolanan tertentu, ia harus tahu terlebih dahulu kriteria-kriteria apa saja yang harus ia penuhi, strategi apa yang harus diperhitungkan, langkah-langkah apa yang harus dijalankan dan sebagainya.

Dolanan tradisional anak-anak mengandung nilai-nilai tertentu yang dapat ditanamkan dalam diri anak, misalnya : kekompakan, demokrasi, tanggung jawab, disiplin, dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut sangat berguna bagi bekal anak dalam menuju pada kehidupan bermasyarakat.

Berbagai nilai luhur yang terkandung dalam dolanan anak tersebut menggambarkan bahwa dolanan anak dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian anak ke arah yang baik. Oleh karena itu, dolanan anak hendaknya tetap dilestarikan di samping keberadaannya sendiri sebagai warisan budaya bangsa kita.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, banyak hal-hal yang telah terjadi. Gedung-gedung pencakar langit tumbuh saling berebut menerkam rembulan, peristiwa yang terjadi di belahan dunia sana akan segera sampai di belahan dunia yang lain dengan adanya satelit, radio, televisi, internet menyediakan menu tayangan yang melenakan, semua itu adalah suguhan hasil teknologi. Kemajuan di bidang kesehatan telah berhasil meningkatkan angka pertumbuhan penduduk, sehingga mau tidak mau harus disediakan perumahan yang telah menggusur tanah-tanah tempat bermain bagi si kecil… anak-anak kita.

Yang disebut di atas hanyalah sedikit gambaran dari hasil pembangunan. Namun marilah kita tengok sudut kehidupan yang lain. Kini tak terdengar lagi riuh suara anak-anak yang dulu asyik bermian petak umpet di bawah bulan purnama. Kini tak terdengar suara bertalu yang dulu mengiringi anak-anak bermain jamuran dari lesung penumbuk padi. Kini tak ada lagi sebidang tanah datar bagi si kecil untuk sekedar bermain kelereng.

Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan, anak-anak tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bermain dengan alamnya. Kini mereka tidak lagi merasakan basuhan tanah yang akan menumbuhkannya, kini mereka tidak lagi akrab dengan rerumputan yang mengajarkan keramahan. Kini mereka dihadapkan pada nilai-nilai moral yang tidak karuan juntrungnya oleh media-media yang mengakrabinya, seperti televisi, video, playstation dan lain sebagainya. Ini sangat ironis, karena bila demikian, mereka tidak lagi mengenal lingkungan alaminya.

Bentuk kegiatan ini :

  1. Riset (Research)
  2. Produksi (Production)
  3. Kampanye (Campagne)
  4. Distribusi/Pemasaran (Distribution/Marketing)

(bahkan bila memungkinkan akan dilanjutkan dengan pendirian “Museum Dolanan Anak”)

Bila tertarik untuk terlibat atau ikut serta merealisasikan program ini, silakan contact kami via nidyah.fssr93@gmail.com atau 08121529879 // 0818251635.

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.