Latar Belakang :
Mengapa Coklat ?
Coklat memang merupakan makanan yang banyak disukai oleh segala usia. Kandungan alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida, memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah.
Coklat juga mengandung antioksidan yang dapat menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah dan dalam segi psikis manusia, coklat dapat menimbulkan perasaan rileks, dan juga sangat bermanfaat untuk kecantikan. Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannyayang dapat mengurangi pembentukan radikal bebas dalam tubuh. Akan tetapi kandungan gula yang terdapat dalam coklat membuat coklat menjadi makanan yang cukup hati-hati untuk dikonsumsi, karena dapat meningkatkan berat badan, merusak gigi, atau dapat menyebabkan diabetes.
Menilik dari sejarahnya, coklat sudah diposisikan sebagai sajian yang istimewa. Dalam buku “A Brief History of Chocolate, Food of the Gods”, bangsa Athena menyatakan bahwa coklat dikatakan sebagai makanan para dewa.
Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocolātl yang berarti minuman pahit.
Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah. Penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter), namun terkadang ditambahkan juga busa tambahan.
Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat. Biji dari pohon kakao ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa.
Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450-500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin didalamnya.
Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.
Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah alpukat seharga tiga biji kokoa. Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.(id.wikipedia.org)
Begitu juga dengan kondisi sekarang. Coklat menjadi salah satu makanan, minuman, bingkisan, bahkan menjadi sebuah produk monumental yang sangat berharga baik secara psikologis maupun ekonomis. Coklat sudah menjadi ikon gaya hidup bagi kalangan tertentu.
Begitu banyak disosialisasikan manfaat coklat bagi kesehatan dan kecantikan, serta bagaimana menyajikan coklat untuk kesempatan tertentu. Sehingga kita bisa melihat, bahwa harga makanan, minuman, layanan kecantikan, dan produk-produk coklat lainnya yang ‘branded’ dikenakan biaya yang cukup mahal. Juga diperlakukan dengan ritual yang berbeda dibandingkan dengan jenis produk yang lainnya.
Mengapa Cafe?
Kafe coklat? Mengapa tidak?
Di beberapa daerah, terutama di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya, dll kafe/rumah makan khusus coklat sudah banyak didirikan. Tetapi bagaimana dengan Solo?
Solo sudah dikenal sebagai kota kuliner; dengan makanan tradisional seperti nasi liwet sebagai ikonnya, akan tetapi tidak ada salahnya juga apabila dikembangkan juga beragam makanan lainnya yang bisa menjadi salah satu tujuan wisatawan untuk mencari kenyamanan ketika berkunjung di kota Solo.
Rumah makan/kafe coklat bisa menjadi daya tarik luar biasa bagi pasar remaja dan keluarga. Mengingat kemanfaatan dan rasanya, coklat bisa dikonsumsi oleh semua usia, terutama dari kalangan menengah dan atas.
Ruang makan di rumah, atau rumah makan/restoran seringkali menjadi ikon keakraban bagi sebuah keluarga atau sepasang kekasih. Karenam secara psikologis, meja makan merupakan media efektif untuk akrab antar anggota keluarga atau siapa pun yang duduk mengitarinya.
Dan itupun akan lebih berarti apabila di sana terdapat fasilitas, layanan, menu, event, setting lokasi, dll yang memang disiapkan untuk menciptakan atmosfir keakraban itu.
Di sana pengunjung/pelanggan bisa dilayani, diajak untuk ‘hidup’ sejenak di lingkungan sesuai dengan konsep coklat, menikmati sajian coklat dengan rasa dan penyajian yang berbeda.
Kafe dari bahasa Perancis café. Arti harafiahnya sebetulnya adalah (minuman) kopi, tetapi kemudian menjadi tempat di mana seseorang bisa minum-minum, tidak hanya kopi, tetapi juga minuman lainnya. Di Indonesia, kafe berarti semacam tempat sederhana, tetapi cukup menarik di mana seseorang bisa makan makanan ringan. Dengan ini, kafe berbeda dengan warung.
A “café” can also refer to a small informal public discussion. These are usually live events, and often focus on starting an open conversation on a particular topic. (id.wikipedia.org)
Dengan demikian, di dalam kafe sangat memungkinkan untuk diselenggarakan acara-acara yang bersifat kekeluargaan, keakraban, nostalgia, romantisme, dan keceriaan. Sehingga pengunjung akan mampu menikmati sajian coklat sekaligus menikmati suasana keakraban dan keceriaan yang diorganisir dengan baik.
Tujuan Kegiatan ini :
1. Menjadi tempat makan dan minum yang menyenangkan.
2. Menjadi tempat berkumpul dan bersenang-senang yang nyaman.